“Tujuh puluh ribu
orang dari umatku akan masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah
orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak beranggapan sial dan mereka
selalu bertawakkal pada Rabbnya.”
Hadits ini disebutkan oleh
Syaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tauhid ketika membahas keutamaan
menyempurnakan tauhid akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa.
Yang dimaksud menyempurnakan tauhid (tahqiq tauhid) adalah dengan
meninggalkan kesyirikan baik syirik besar dan syirik kecil, meninggalkan
perbuatan bid’ah, dan meninggalkan maksiat. (Lihat At Tamhid li Syarh
Kitabit Tauhid, hal. 56).
Syaikh Sulaiman At Tamimi menjelaskan
bahwa yang dimaksud merealisasikan tauhid adalah tidak ada di hati
seseorang sesuatu selain Allah, tidak ada keinginan pada apa yang Allah
haramkan, selalu patuh pada perintah Allah. Itulah bukti dari
merealisasikan kalimat laa ilaha illallah. (Lihat Taisir Al ‘Azizil
Hamid, 1: 253).
Baik kita sekarang lihat hadits panjang yang dimaksud. Hushain bin ‘Abdurrahman -rahimahullah- berkata,
كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ
الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلْتُ أَنَا ثُمَّ قُلْتُ أَمَا إِنِّي
لَمْ أَكُنْ فِي صَلَاةٍ وَلَكِنِّي لُدِغْتُ قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ
قُلْتُ اسْتَرْقَيْتُ قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قُلْتُ حَدِيثٌ
حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِيُّ فَقَالَ وَمَا حَدَّثَكُمْ الشَّعْبِيُّ قُلْتُ
حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ الْأَسْلَمِيِّ أَنَّهُ قَالَ
لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ فَقَالَ قَدْ أَحْسَنَ مَنْ
انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ
الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ
وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ
رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي
هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنْ
انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي
انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي
هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ
بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ
النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ
وَلَا عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ صَحِبُوا
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ
فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا
بِاللَّهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ
فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لَا يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ
وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ
بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ
أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ
يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ
“Saya
pernah bersama Sa’id bin Jubair lalu dia berkata, ‘Siapa di antara
kalian yang melihat bintang jatuh semalam?‘ Aku menjawab, ‘Aku’.
Kemudian aku berkata, ‘Tapi aku tidak sedang mengerjakan shalat. Aku
terbangun karena aku disengat (binatang).’ Sa’id lalu berkata, “Lantas
apa yang kamu perbuat?‘ Aku menjawab, ‘Aku meminta untuk diruqyah.’
Sa’id bertanya, ‘Apa yang alasanmu sampai meminta diruqyah? ‘ Aku
menjawab, ‘Sebuah hadits yang Asy Sya’bi ceritakan kepadaku.’ Sa’id
bertanya lagi, ‘Apa yang diceritakan Asy Sya’bi kepada kalian.’ Aku
menjawab, ‘Dia telah menceritakan kepada kami dari Buraidah bin Hushaib
Al Aslami, bahwa dia berkata, “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh
penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa).” Maka Sa’id pun
menjawab, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia
dengar.” Hanya saja Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Telah
ditampakkan padaku semua umat. Aku melihat seorang nabi yang hanya
memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya
memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak
memiliki pengikut sama sekali. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku
sekumpulan orang, maka aku menyangka bahwa mereka adalah umatku. Ada
yang berkata padaku, ‘Mereka adalah Nabi Musa ‘alaihis salam dan
pengikutnya. Tetapi lihatlah ke ufuk.’ Lalu aku pun memandang, ternyata
ada kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam (yakni saking banyaknya
orang kelihatan dari jauh). Lalu dikatakan lagi kepadaku, ‘Lihatlah ke
ufuk yang lain.’ Ternyata di sana juga terdapat kumpulan kaum yang besar
yang berwarna hitam. Dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu dan bersama
mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki surga tanpa
dihisab dan disiksa‘.”
Setelah menceritakan itu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bangkit lalu masuk ke dalam
rumahnya. Orang-orang lalu memperbincangkan mengenai mereka yang akan
dimasukkan ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa. Sebagian dari
mereka berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang selalu bersama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ada pula yang mengatakan,
“Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak
pernah melakukan perbuatan syirik terhadap Allah.” Mereka mengemukakan
pendapat masing-masing. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
keluar menemui mereka, lalu beliau bertanya, “Apa yang telah kalian
perbincangkan?” Mereka pun menerangkannya kepada beliau. Lantas
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka adalah
orang-orang yang tidak meruqyah, tidak meminta untuk diruqyah, tidak
melakukan thiyaroh (beranggapan sial) dan hanya kepada Allah mereka
bertawakal.”
‘Ukkasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata,
“Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau termasuk
bagian dari mereka.” Kemudian ada lagi yang berdiri dan berkata,
“Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ukkasyah telah
mendahuluimu.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220)
Dalam riwayat Bukhari disebutkan,
هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta
untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi
panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR.
Bukhari no. 5752)
Faedah dari hadits di atas:
1- Hushain
bin ‘Abdurrahman khawatir jika orang-orang menyangka ia melakukan shalat
malam ketika melihat bintang. Ia tidak mau dinilai melakukan ibadah
saat itu padahal ia tidak melakukannya. Inilah yang menunjukkan
keutamaan salafush sholeh dan menunjukkan bagaimana keikhlasan pada diri
mereka. Mereka berusaha menjauhkan diri dari riya’. Mereka tidak mau
mengatakan bahwa ia telah melakukan seperti ini dan seperti itu supaya
orang-orang sangka ia adalah wali Allah. Ada yang memakai biji tasbih di
leher atau sengaja membawa tasbih di tangannya ketika berjalan, supaya
orang-orang sangka ia sedang berdzikir. Dan memang memamerkan biji
tasbih di leher ketika jalan lebih cenderung pada riya’ (ingin
memamerkan amalan).
2- Hushain ketika tersengat kalajengking
mengambil pilihan untuk meminta diruqyah karena ia punya pegangan dalil
dari Asy Sya’bi (‘Amir bin Syarohil Al Hamdani Asy Sya’bi) dari Buraidah
bin Al Hushaib. Dalilnya mengatakan bahwa tidak ada ruqyah yang lebih
manjur kecuali pada penyakit ‘ain (mata dengki) atau pada humah
(sengatan kalajengking). Ini menunjukkan bahwa boleh meminta diruqyah
dalam hal seperti ini, namun ada jalan yang lebih baik sebagaimana
disebutkan oleh Sa’id bin Jubair.
3- Ketika Sa’id bin Jubair
meminta dalil pada Hushain kenapa ia meminta diruqyah, ini menunjukkan
bahwa para ulama salaf dahulu sudah biasa saling menanyakan dalil atas
pendapat yang mereka anut. Saling bertanya ilmiah ini adalah kebiasaan
yang baik yang patut dicontoh, “Apa dalil Anda dalam masalah ini?”
4- Al Khottobi mengatakan bahwa maksud hadits “Tidak ada ruqyah kecuali
disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa)”
yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah meruqyah dan diruqyah.
(Lihat Ma’alimus Sunan, 4: 210 dan Masyariqul Anwar, 1: 366).
Yang dimaksud ‘ain adalah pandangan tidak suka dari orang yang hasad.
Sedangkan humah adalah sengatan kalajengking dan semacamnya.
5-
Sa’id bin Jubair mengatakan, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan
dalil yang telah ia dengar”. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang telah
mengamalkan ilmu yang telah sampai padanya, maka itu sudah disebut baik
karena ia telah melakukan kewajibannya. Beda halnya dengan orang yang
beramal dilandasi kebodohan atau tidak mengamalkan ilmunya, maka ia
jelas berdosa.
6- Perkataan Sa’id bin Jubair juga menunjukkan
baiknya adab salaf dalam menyampaikan ilmu dan bagaimana menyatakan
pendapatnya dengan lemah lembut. Lalu Sa’id menunjukkan pada Hushain
tentang manakah cara yang lebih baik ditempuh, padahal apa yang
dilakukan oleh Hushain masih boleh.
7- Siapa yang telah
mengamalkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya sudah disebut baik, bukan
hanya sekedar berdiam pada perkataan ulama madzhab.
8- Hadits
yang disampaikan pertama yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab
kecuali pada ‘ain dan humah dan hadits kedua dari Ibnu ‘Abbas tentang
orang-orang yang meninggalkan meminta ruqyah tidaklah kontradiksi atau
bertentangan.
9- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditampakkan umat yang disebutkan dalam hadits adalah saat peristiwa Isra’ Mi’raj.
10- Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya
sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang
banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah
jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits,
siapa pun dia dan di mana pun dia berada